Diposkan pada Materi, Mikrobiologi

Perbedaan Antigen, Superantigen dan Imunogen

Apa yang dimaksud dengan Antigen, Superantigen dan Imunogen?

Gambar 1. Jenis-Jenis pengikatan Antigen pada situs pengikatan Antigen-Antibodi
(Janeway’s immunobiology, 2017)

ANTIGEN

Istilah antigen disarankan untuk pertama kalinya bersamaan dengan istilah antibodi yang terjadi pada masa awal perkembangan imunologi tahap ilmiah.Dalam buku-buku ajar imunologi yang kini diterbitkan sudah tidak dipermasalahkan tentang definisi antigen tersebut. Oleh Jackson (1978), hanya dikemukakan bahwa antigen dikelompokkan berdasarkan klasifikasi operasional dalam 2 jenis utama, yaitu : antigen eksogen dan antigen endogen.

Hyde (2000), dalam bukunya membagi antigen dalam antigen tergantung SEL T (T cell dependent antigen) dan antigen tidak tergantung sel T (T cell independent antigen). Klasifikasi antigen terakhir ini mempunyai arti praktis dalam menjelaskan ketergantungan antigen kepada komponen selular sistem imun (dalam hal ini sei T).

Antigen eksogen dimaksudkan konfigurasi yang dipaparkan ke tubuh dari lingkungan luar. Antigen ini dapat berasal dari mikroorganisme, butir sari bunga, makanan, obat-obatan atau polutan. Antigen-antigen ini bertanggung jawab akan timbulnya sederetan penyakit mulai dari penyakit-penyakit infeksi sampai penyakit-penyakit manusia yang timbul melalui mekanisme sistem imun, seperti misalnya asma bronkhiale.

Antigen endogen merupakan konfigurasi yang terdapat dalam tubuh individu, yang mencakup antigen heterologus (senogenik) dan antigen homologus (alogenik). Antigen senogenik ditemukan dalam varietas spesies yang tidak ada hubungannya secara filogenetik dengan spesies pemilik sistem imun.

Antigen senogenik sangat penting dalam masalah klinik kedokteran, baik dalam hubungan respons tubuh maupun dalam kepentingan diagnosis penyakit. Tetapi antigen alogenik atau antigen homologus menempati kedudukan jauh lebih penting dalam bidang kedokteran.

Jenis antigen alogenik merupakan antigen yang dikendalikan secara genetik (alel) oleh epitop (determinan antigenik) yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya dalam suatu spesies tertentu. Pada manusia, jenis antigen alogenik ditemukan eritrosit, lekosit, trombosit, sel-sel dan jaringan (HLA).

SUPERANTIGEN

Yang termasuk superantigen merupakan molekul khas (unik) yang sangat besar potensinya dalam merangsang mitosis limfosit T, sehingga lebih tepat jika dinamakan supermitogen. Molekul-molekul tersebut dapat memicu limfosit T CD4 tanpa adanya tahap pemrosesan lebih dahulu.

Molekul superantigen akan mengikat molekul reseptor pada limfosit T sekaligus mengikat molekul MHC kelas II. Contoh superantigen adalah enterotoksin, misalnya toksin yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus merupakan superantigen. Molekul molekul tersebut juga mampu menginduksi pelepasan sitokin: IL-1 dan TNF oleh limfosit T, yang pada gilirannya akan menyebabkan kerusakan jaringan.

IMUNOGEN

Imunogen adalah substansi yang memiliki potensi rnenimbulkan induksi respons imun apabila dipertemukan dengan tubuh. Potensi tersebut dinamakan imunogenisitas. Kemampuan untuk menginduksi respons imun baru tampak apabila substansi tersebut dipertemukan dengan tubuh.

Maka pengertian imunogenisitas suatu substansi berbeda dengar sifat-sifat fisikokimia yang dimiliki secara inheren oleh suatu substansi tertentu karena imunogenisitas merupakan sifat yang manifestasinya baru muncul pada kondisi eksperimental atau operasional dan bergantung pada sistem yang dipakai.

Ini berarti bahwa imunogenisitas suatu substansi bergantung pada antigennya, cara mempertemukan antigen dengan tubuh, dan kepekaan metode yang dipakai untuk mengamati ada tidaknya respons imun. Sebagai contoh: dahulu gelatin merupakan substansi yang tidak termasuk imunogen, tetapi setelah diketemukan teknologi baru dalam mengamati ada tidaknya respons imun terhadap gelatin, yaitu metode yang lebih peka untuk mengidentifikasi antibodi sebagai produk dari respors imun, kini gelatin dinyatakan sebagai imunogen.

“tidak semua antigen merupakan imunogen, tetapi semua imunogen merupakan antigen”
***

___
Referensi :
1. Subowo. 2014. Imunobiologi Edisi 3. Jakarta : Sagung Seto
2. Janeway’s immunobiology, 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s