Diposkan pada Materi, Mikrobiologi

Apa Itu Sitokin?

Jika sedang belajar Imunologi dan Mikrobiologi, maka tidak akan asing lagi dengan kata yang satu ini, Sitokin. Apa itu sitokin dan bagaimana cara kerjanya? Dalam artikel ini hanya akan membahas dasar dan pengenalan tentang sitokin, karena tinjauan tentang sitokin cukup luas akan dilanjutkan pada materi lainnya dalam Materi Imunologi

1. Pengertian Sitokin

Sitokin adalah suatu molekul yang dihasilkan oleh sel, yang berperan sebagai mediator atau penghantar sinyal dari suatu sel, baik untuk menginduksi dari suatu sel ke sel lain maupun untuk menginduksi dirinya sendiri. Pada mulanya sitokin yang dihasilkan oleh monosit disebut monokin, sedangkan sitokin yang dihasilkan oleh limfosit disebut limfokin. Dalam perkembangannya, di mana satu sel dapat menghasilkan lebih dari satu sitokin, maka istilah monokin maupun limfokin saat ini jarang digunakan. Namun, yang digunakan adalah beberap istilah, seperti interleukin (IL), Tumor Necrotic Factor (TNF), interferon (IFN) dan sebagainya (Sudiana, 2008).

Gambar 1. Makrofag menyerang bakteri dan memicu pelepasan sitokin

Dalam buku Imunobiologi Edisi 3, Sitokin merupakan peptida pengatur (regulator) yang dapat diproduksi oleh hampir semua jenis sel yang berinti dalam tubuh. Sitokin dikelompokkan dalam mediator yang berfungsi dalam komunikasi antarsel. Ditinjau dari tujuan komunikasi, maka mediator komunikasi berfungsi membawa sinyal yang dikirimkan ke sel sasaran agar melakukan perubahan perilaku. Mediator dalam komunikasi antarsel dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori berdasarkan mekanisme komunikasinya, yaitu sebagai 1) hormon, 2) neurotransmitter dan 3) adalah sitokin (Subowo, 2014)

Menurut Sudiana (2008), Cara penghantaran sinyal dari suatu sel dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu autokrin, parakrin dan endokrin.

  1. Otokrin adalah suatu proses signaling di mana suatu sel menghasilkan mediator (sitokin) untuk mempengaruhi aktivitasnya sendiri
  2. Parakrin adalah suatu proses signaling di mana suatu sel menghasilkan mediator (sitokin) yang digunakan untuk mempengaruhi aktivitas sel yang lainnya, tanpa memerlukan suatu sistem veskuler atau pembuluh.
  3. Endokrin adalah suatu proses signaling di mana suatu sel menghasilkan mediator (sitokin) yang digunakan untuk mempengaruhi aktivitas sel lainnya, yang memerlukan suatu sistem vaskuler atau pembuluh.

Sitokin sendiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Sitokin adalah polipeptida yang diproduksi sebagai respons terhadap rangsang mikroba dan antigen lainnya dan antigen lainnya dan berperan sebagai mediator pada reaksi imun dan inflamasi.
  2. Sekresi sitokin terjadi cepat dan hanya sebentar, tidak disimpan sebagai molekul preformed. Kerjanya sering pleiotropik (satu sitokin bekerja terhadap berbagai jenis sel yang menimbulkan berbagai efek) dan redundan (berbagai sitokin menunjukkan efek yang sama). Oleh karena itu, efek antagonis satu sitokin tidak akan menunjukkan hasil nyata karena ada kompensasi dari sitokin yang lain.
  3. Sitokin sering berpengaruh terhadap sintesis dan efek sitokin yang lain.
  4. Efek sitokin dapat lokal atau sistemik.
  5. Sinyal luar mengatur ekspresi reseptor sitokin atau respons sel terhadap sitokin
  6. Efek sitokin terjadi melalui ikatan dengan reseptornya pada membran sel sasaran
  7. Respons selular terhadap kebanyakan sitokin terdiri atas perubahan ekpresi gen terhadap sel sasaran yang menimbulkan ekspresi fungsi baru dan kadang proli-ferasi sel sasaran.

Sitokin dapat memberikan efek langsung dan tidak langsung. Sitokin yang berefek langsung memiliki ciri :

  1. Lebih dari satu efek terhadap berbagai jenis sel (pleiptropi)
  2. Autoregulasi (fungsi autokrin)
  3. Terhadap sel yang letaknya tidak jauh (fungsi parakin)

Sedangkan Sitokin yang berefek tidak langsung mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Menginduksi ekspresi reseptor untuk sitokin lain atau bekerja sama dengan sitokin lain dalam merangsang sel (sinergisme)
  2. Mencegah ekspresi reseptor atau produksi sitokin (antagonisme)

Sitokin merupakan protein pembawa pesan kimiawi, atau perantara dalam komunikasi antarsel yang sangat poten, aktif pada kadar yang sangat rendah. Reseptor yang diekspresikan dan afinitasnya merupakan faktor kunci respons selular.

2. Reseptor Sitokin

Dalam beberapa tahun terakhir, reseptor sitokin telah banyak menyita perhatian para ahli dibandingkan dengan sitokin itu sendiri, sebagian karena karakteristiknya yang luar biasa, dan sebagian karena defisiensi reseptor sitokin secara langsung berkaitan dengan melemahnya immunodefisiensi. Dalam hal ini, dan juga karena redundansi dan pleiomorpishm sitokin, pada kenyataannya merupakan konsekuensi dari reseptor homolog sitokin, banyak para ahli berfikir bahwa klasifikasi reseptor akan lebih berguna secara klinis dan eksperimental. Sitokin bekerja pada sel-sel targetnya dengan mengikat reseptor-reseptor membran spesifik. Reseptor dan sitokin yang cocok dengan reseptor tersebut dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan struktur dan aktivitasnya. Klasifikasi reseptor sitokin berdasarkan pada struktur tiga-dimensi yang dimiliki.

a. Reseptor sitokin tipe 1 ( Haemopoitin Growth Factor family )

Anggota-anggotanya memiliki motif tertentu pada ekstraseluler asam-amino domain. Contoh, IL-2 reseptor memiliki rantai –γ (umumnya untuk beberapa sitokin lain) yang kurang sehingga secara langsung bertanggung jawab atas x-linked Severe Combined Immunodeficiency (X-SCID). X-SCID menyebabkan hilangnya aktivitas kelompok sitokin ini.

b. Reseptor sitokin tipe 2 ( Interferon)

Anggota-anggotanya adalah reseptor-reseptor terutama untuk interferon. Reseptor-reseptor kelompok interferon memiliki sistein residu (tetapi tidak rangkain Trp-Ser-X-Trp-Ser) dan mencakup reseptor-reseptor untuk IFNα, IFNβ, IFNγ.

c. Reseptor sitokin tipe 3 ( Tumor Necrosis Factor family )

Anggota-anggotanya berbagi sistein-ekstraseluler yang umumnya banyak mengikat domain, dan termasuk beberapa non-sitokin lain seperti CD40, CD27, dan CD30, selain yang diberi nama (TNF).

d. Reseptor kemokin

Reseptor kemokin mempunyai tujuh transmembran heliks dan berinteraksi dengan G protein. Kelompok ini mencakup reseptor untuk IL-8, dan MIP-1. Reseptor kemokin, dua diantaranya beraksi mengikat protein untuk HIV (CXCR4 dan CCR5), yang juga tergolong ke dalam kelompok ini.

e. Immunoglobulin (Ig) superfamili

Immunoglobulin (Ig) yang sudah ada seluruhnya pada beberapa sel dan jaringan dalam tubuh vertebrata, dan berbagi struktural homologi dengan immunoglobulin (antibodi), sel molekul adhesi, dan bahkan beberapa sitokin. Contoh, IL-1 reseptor.

f. Reseptor TGF beta

Anggotanya dari transformasi faktor pertumbuhan beta superfamili, yang tergolong kelompok ini, meliputi TGF-β1, TGF-β2, TGF-β3.

Reseptor sitokin bisa keduanya merupakan membran berbatas dan larut. Reseptor sitokin yang larut umumnya secara ekstrim sebagai pengatur fungsi sitokin. Aktivitas sitokin bisa dihambat oleh antagonisnya, yaitu molekul yang mengikat sitokin atau reseptornya. Selama berlangsungnya respon imun, fragmen-fragmen membran reseptor terbuka dan bersaing untuk mengikat sitokin.

_____
Sumber :

  • Roitt, I. M. 2002. Imunologi, Edisi 8. Terjemahan dari Essential Immunology. Alih Bahasa oleh Alida H., Liliana K., Samsuridjal D., Siti B. K., and Yoes P. D. Jakarta: Widya Medika.
  • Sudiana, I. K. 2008. Patobiologi Molekuler Kanker. Jakarta : Salemba Medika.
  • Subowo. 2014. Imunobiologi, Edisi 3.  Jakarta : Sagung Seto

2 tanggapan untuk “Apa Itu Sitokin?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s