Diposkan pada Genetika, Materi

Mengenal Istilah Sense, Template, Coding dan Kodon pada DNA/RNA

Apa yang dimaksud dengan sense dan antisense, template dan antitemplate, untai DNA positif dan untai DNA negatif, coding dan noncoding,  kodon dan antikodon? serta apa perbedaannya?

Mari kita mulai dari Nukleotida, yaitu bahan dasar penyusun asam nukleat (deoxyribonucleic acid = DNA dan ribonucleic acid = RNA). Nukleotida terdiri atas satu gugus fosfat, gula pentosa dan basa nitrogen, Gula pada asam nukleat terbagi menjadi dua, yaitu Gula Deoksiribosa pada DNA dan gula Ribosa pada RNA. Untuk Basa Nitrogen, terbagi menjadi dua jenis, yaitu Purin dan Pirimidin.

Purin terdiri atas Adenin (yang disimbolkan dengan A) dan Guanin yang disimbolkan dengan G, Sedangkan Pirimidin terdiri atas Sitosin (C), Timin (T) yang hanya terdapat pada DNA dan Urasil (U) yang hanya terdapat pada RNA


Untuk menyusun DNA, nukleotida akan berikatan dengan nukleotida lainnya, membentuk polinukleotida. Pada polinukleotida, terdapat ketentuan yaitu Basa Nitorgen Adenin berikatan dengan Timin, dan Guanin berikatan dengan Sitosin, antara Adenin dan Timin dihubungkan oleh 2 ikatan sedangkan Guanin dan Sitosin dihubungkan oleh 3 ikatan. Ikatan ini disebut sebagai Ikatan Hidrogen

Polinukleotida ini kemudian akan menyusun rantai DNA, yang terdiri atas dua untaian yang disebut Double Helix, saling melengkapi dan berpasangan disebut Koplementer dan memiliki ujung yang berlawanan disebut Antiparalel, ujung ini ditentukan oleh nomor atom Carbon pada Gula dimasing-masing ujung Nukleotida

Urutan Basa nitorgen dari Nukleotida ini menentukan proses yang berjalan pada asam nukleat. Basa nitrogen akan saling berpasangan, yaitu basa nitrogen A berpasangan dengan T, G berpasangan dengan C ataupun sebaliknya.

Jika Salah satu untai memiliki ujung 5’ – 3′, Maka untai lainnya memiliki ujung 3’ – 5’. Untai dengan ujung 5’ – 3’ sebagai untai positif dan Untai dengan ujung 3’ – 5’ sebagai untai negatif. Untai ujung 5’ – 3’ disebut sebagai untai Sense dan dan Untai dengan ujung 3’ – 5’ disebut Antisense.

Pada proses transkripsi, salah satu untai digunakan sebagai pencetak mRNA sehingga disebut Template dan untai lainnya sebagai Antitemplate karena tidak ditranskripsi. RNA hasil transkripsi dari untai template akan memiliki urutan yang mirip dengan salah satu untai DNA (dengan basa nitrogen T digantikan oleh U), yaitu untai ujung 5’ – 3’ sehingga untai ini disebut Coding, sedangkan untai lainnya disebut Anticoding

Jadi, untai DNA dengan ujung 5’- 3’ merupakan untai positif = sense = template = Coding.
Sedangkan, untai DNA dengan ujung 3’ – 5’ merupakan untai negatif = antisense = antitemplate = Noncoding

Jika proses berlanjut ke transkripsi, Untai DNA sebagai template kemudian berperan dalam sintesis RNA. Untai ini sebagai cetakan untuk merakit sekuens nukleotida RNA yang komplementer dengan basa nitrogen untai DNA (dalam hal ini digambarkan sebagai urutan basa nitrogen, dengan basa nitrogen T digantikan oleh U). RNA ini hanya terdiri atas satu untai dan disebut mRNA (mesengger RNA).

mRNA hasil transkripsi kemudian menuju ribosom, dimana proses translasi berlangsung. yaitu proses sintesis polipeptida. RNA jenis lainnya yaitu tRNA (transfer RNA) akan datang ke ribosom, dengan membawa asam amino disalah satu lengannya sehingga disebut tRNA aminoasil, dan dilengan lainnya terdapat triplet basa nitorgen yang disebut Antikodon yang komplementer dengan triplet basa nitorgen pada mRNA, triplet basa nitrogen ini disebut Kodon.

Proses translasi akan berlanjut pada kodon mRNA selanjutnya dengan tRNA berbeda yang datang ke ribosom. Hasil translasi ini merupakan polipeptida yang rangkaian asam aminonya sesuai kodon mRNA, polipeptida kemudian akan menjadi Protein fungsional.

Ingat bahwa Polipeptida tidak sama atau sinonim dengan Protein. Protein fungsional tidak sekedar suatu rantai polipeptida tunggal, melainkan satu atau lebih polipeptida yang secara tepat terpuntir, terlipat dan terkumpar menjadi molekul berbentuk unik, yang dikenal dengan struktur berdimensi-tiga, yaitu struktur primer, sekunder, tersier maupun kuartener. Jadi, untuk menjadi suatu protein fungsional, polipeptida harus mengalami perubahan struktur terlebih dahulu.

Referensi :
Reece, Jane B., et al. 2008. Campbell Biology 8th Edition. New York: Pearson
Hartwell, Leland H.  et al. 2011. Genetics: From Genes to Genomes, 4th Edition. New York :  McGraw-Hill

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s